Laman

Selasa, 04 Desember 2012

pengaruh rasio keuangan terhadap nilai kinerja keuangan perusahaan


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Penelitian
1
Perusahaan yang sehat merupakan perusahaan yang memiliki kinerja yang baik, baik dilihat dari sisi keuangan maupun sisi manajemennya. Setiap perusahaan yang bertujuan profit oriented pastinya akan selalu memperhatikan kinerja keuangan perusahaannya. Hal ini disebabkan karena dengan kinerja keuangan yang mapan perusahaan akan lebih mampu bersaing di era globalisasi yang memiliki persaingan tajam.
Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat dilihat pada laporan keuangan yang diterbitkan setiap periode oleh perusahaan tersebut. Dari laporan keuangan tersebut akan memberikan informasi yang diperlukan oleh pihak-pihak yang memerlukan. Laporan keuangan terdiri dari, neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan.
Dalam Setyowati (2008), dijelaskan bahwa menurut IAI (2002) untuk mendapatkan kualifikasi informasi yang berguna maka laporan keuangan harus memiliki empat karakteristik kualitatif pokok, yaitu dapat dipahami, relevan, dapat diandalkan dan dapat dibandingkan. Dapat dipahami maksudnya kualitas terpenting yang ditampung dalam laporan keuangan adalah  kemudahannya untuk segera dipahami oleh pemakai. Relevan maksudnya adalah informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu. Dapat dibandingkan maksudnya pemakai harus dapat membandingkan laporan masa mendatang.
Analisis laporan keuangan dikatakan mempunyai kegunaan apabila dapat dipakai untuk memprediksi fenomena ekonomi. Laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan merupakan salah satu sumber informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, kinerja serta perubahan posisi keuangan perusahaan yang sangat berguna untuk mendukung pengambilan keputusan yang tepat.
Menurut Harianto dan Sudono dalam Meriewaty (2005) para pengguna dan pemanfaat laporan keuangan adalah pemegang saham, investor, manajer, karyawan, pemasok dan kreditur, pelanggan,pemerintah dan pengguna lainnya. Antara pengguna laporan keuangan yang satu dengan yang lainnya mempunyai kepentingan yang berbeda. Pemegang saham akan menilai kinerja manajemen sebagai pihak yang diberi tanggung jawab untuk menjalankan dana pemegang saham. Investor memerlukan informasi keuangan untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan atau menjual investasinya. Karyawan berkepentingan terhadap laporan keuangan agar perusahaan selalu berkembang dan menghasilkan laba, di samping itu untuk melihat rencana pensiun di masa depan. Dari uraian di atas dapt diketahui bahwa laporan keuangan disusun untuk menyediakan informasi keuangan mengenai suatu perusahaan. Informasi dalam laporan keuangan ini diharapkan akan digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan sebagai dasar pertimbangan dalam pembuatan keputusan ekonomi (Harnanto, 1994:9).
Di dalam Financial Accounting Standard Board (FASB) Statement Of Financial Accounting Concept No. 1, dinyatakan bahwa sasaran utama pelapor keuangan adalah informasi tentang prestasi perusahaan yang disajikan melalui pengukuran laba dan komponennya. Laba perusahaan diperlukan untuk kepentingan kelangsungan hidup perusahaan dan ketidakmampuan perusahaan dalam mendapatkan laba akan menyebabkan tersingkirnya perusahaan dari perekonomian. Untuk memperoleh laba perusahaan harus melakukan kegiatan operasional. Kegiatan operasional ini dapat terlaksanakan jika perusahaan mempunyai sumber daya. Sumber daya perusahaan tercantum dalam neraca dan hubungan antara unsur-unsur yang membentuk neraca dapat ditunjukkan oleh rasio keuangan.
Jadi dapat ditarik pemahaman bahwa hubungan antara analisis rasio keuangan dengan kinerja keuangan adalah dengan menggunakan analisis rasio keuangan maka perusahaan dapat merencanakan dan mengatur segala kebutuhan perusahaan untuk mengukur kekuatan dan kelemahan dalam mencapai dan meningkatkan apa yang di cita-citakan perusahaan.
Berdasarkan peranan pentingnya dari rasio keuangan maka penelitian ini dilakukan pada perusahaan kosmetik dan keperluan rumah tangga (household)  yang go publik. Pasar global memungkinkan setiap perusahaan dapat berinteraksi dengan bebas di seluruh belahan dunia. Hal ini menyebabkan persaingan yang cukup tajam antara produk dalam negeri dengan produk impor. Termasuk salah satunya produk kosmetik dan keperluan rumah tangga di Indonesia yang mendapat serbuan tajam dari produk-produk impor dari perusahaan China dan perusahaan asing lainnya. Hal ini menyebabkan pangsa pasar produk dalam negeri menjadi tersaingi. Perusahaan-perusahaan kosmetik dan keperluan rumah tangga harus memiliki pondasi kinerja yang cukup kuat untuk bersaing di pasar. Oleh sebab itu perusahaan harus selalu memperhatikan kinerja perusahaannya sehingga perusahaan tersebut akan tetap eksis walaupun serangan produk impor terus terjadi.
Beberapa penelitian tentang manfaat analisis laporan keuangan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan telah banyak dilakukan, antara lain Beaver (1966) yang menggunakan 30 rasio keuangan untuk mengetahui tingkat kebangkrutan perusahaan, kemudian Altman (1968) menemukan suatu formula “Z-score”. O’Connor (1973) memprediksi keuntungan saham dengan 10 rasio keuangan. Machfuedz (1994) menggunakan 47 rasio yang kemudian diseleksi menjadi 13 rasio keuangan dalam memprediksi perubahan pendapatan pada perusahaan manufaktur di Indonesia. Selain itu, Dian dan Astuti (2005) menggunakan 14 rasio untuk menilai perubahan kinerja perusahaan dan menghasilkan bahwa rasio Total Debt to Total Asset, Total Assets Turnover, Return On Invesment dan Current Ratio berpengaruh signifikan terhadap perubahan kinerja perusahaan tersebut.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis tertarik untuk meneliti dan membuat karya ilmiah dengan judul “Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Kosmetik dan Household yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”.

1.1.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut: “apakah rasio keuangan berpengaruh terhadap nilai kinerja keuangan perusahaan kosmetik dan household yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?”

1.2.Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah pengaruh rasio keuangan terhadap nilai kinerja keuangan perusahaan kosmetik dan household yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

1.3.Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1.      Secara teoritis bermanfaat untuk menambah literatur dan study kepustakaan bagi peneliti-peneliti selanjutnya.
2.      Secara praktis diharapkan bisa berguna bagi perusahaan kosmetik dan household yang bersangkutan agar perusahaan tersebut mengetahui tingkat kinerjanya dan dapat meningkatkan kemballi kinerja keuangannya.


BAB II
LANDASAN TEORITIS
Kalo sempat kepustaka cari buku Sofyan Syafri Harahab,.. Analisis Kritis Terhadap Laporan Keuangan.Cari yang terbaru (2004) dan ganti halaman kutipan dan daftar pustaka
2.1.      Kinerja Keuangan
2.1.1.      Pengertian Kinerja Keuangan
Informasi akuntansi sangat bermanfaat untuk menilai pertanggungjawaban kinerja manajer. Karena penilaian kinerja pada dasarnya merupakan penilaian perilaku manusia dalam melaksanakan peran yang dimainkannya dalam mencapai tujuan organisasi atau perusahaan. Kemungkinan yang lain adalah digunakannya informasi akuntansi bersamaan dengan informasi non akuntansi untuk menilai kinerja manajer atau pimpinan perusahaan.
Menurut Mangkunegara (2000:67) dalam Fianka (2008), Kinerja ( prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.  Kemudian menurut Sulistiyani (2003:223) dalam Fianka (2008), “Kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya”. Sedangkan menurut Hasibuan (2003:34) dalam Fianka (2008) mengemukakan bahwa “kinerja (prestasi kerja) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas  kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu”.
Menurut Rivai (2004:309) dalam Fianka (2008) mengemukakan bahwa kinerja adalah merupakan perilaku yang nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai perannya dalam perusahaan.
Menurut Mulyadi (1997:419) dalam Sucipto (2003:1), penilaian kinerja adalah penentuan secara periodik efektifitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang ditetapkan sebelumnya.
Sedangkan menurut Hastuti (2005) dalam Pranata (2007:19), kinerja perusahaan adalah hasil banyak keputusan individual yang dibuat secara terus menerus oleh manajemen.  Oleh karena itu untuk menilai kinerja perusahaan perlu melibatkan analisis dampak keuangan kumulatif dan ekonomi dari keputusan dan mempertimbangkannya dengan menggunakan ukuran komparatif.  Kinerja keuangan merupakan salah satu faktor yang menunjukkan efektifitas dan efisien suatu organisasi dalam rangka mencapai tujuannya. Efektifitas apabila manajemen memiliki kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau suatu alat yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan efisiensi diartikan sebagai ratio (perbandingan) antara masukan dan keluaran yaitu dengan masukan tertentu memperoleh keluaran yang optimal.
Sehingga dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan, kinerja keuangan adalah penentuan ukuran-ukuran tertentu ang dapat mengukur keberhasilan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba.

2.1.2.      Tujuan Penilaian Kinerja
Setiap kebijakan dan aturan yang ditetapkan oleh sebuah perusahaan terhadap manajemennya tentu memiliki tujuan yang bermanfaat bagi manajemen itu sendiri. Begitu pula penilaian kinerja suatu perusahaan juga memiliki tujuan yang diperhatikan oleh perusahaan. Penilaian kinerja diperlukan oleh manajemen untuk mengetahui bagaimana kualitas  manajemen organisasi maupun manajemen keuangan perusahaan tersebut.  Menurut Mulyadi dalam Sucipto (2003:2), penilaian kinerja bertujuan “untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang dituangkan dalam anggaran.
Penilaian kinerja dilakukan untuk menekan perilaku yang tidak semestinya dan untuk merangsang dan menegakkan perilaku yang semestinya diingikan melalui umpan balik hasil kinerja dan waktu serta penghargaan baik yang bersifat instrinsik dan ekstrinsik.
Sedangkan menurut Darmawati (2004) dalam Pranata (2007:20) adalah  
1.      Untuk keperluan merger dan akuisisi.
Perusahaan akan melakuakan merger (penggabungan usaha) atau mengakuisisi perusahaan lain, jelas memerlukan kegiatan penilaian untuk mengetahui berapa nilai perusahaan dan nilai ekuitas dari masing-masing perusahaan.
2.      Untuk kepentingan restrukturisasi dan kepentingan usaha.
Perusahaan yang bermasalah seringkali memerlukan penilaian untuk mengimplementasikan program pemulihan usaha atau restrukturisasi, untuk mengetahui apakah nilai usaha lebih besar daripada nilai likuiditasnya.
3.      Untuk keperluan divestasi sebagai saham perusahaan dari mitra strategis (beberapa saham harus dilepas kepada mitra baru). Contoh: privatisasi BUMN.
4.      Untuk Initial Public Offering (IPO)
Perusahaan yang akan menjual sahamnya pada umum atau bursa, harus dinilai dengan menggunakan penilaian yang wajar untuk ditawarkan kepada masyarakat atau public.
5.      Untuk memperoleh pendapatan wajar atas penyertaan dalam suatu perusahaan atau menunjukkan bahwa perusahaan bernilai lebih dari apa yang ada di dalam neraca.
6.      Memperoleh pembelanjaan penetapan besarnya pinjaman atau tambahan modal.

2.2.      Rasio Keuangan
2.2.1.      Pengertian Rasio Keuangan
Perencanaan yang tepat adalah kunci keberhasilan seorang manajer. Perencanaan yang baik harus bisa dihubungkan dengan kekuatan dan kelemahan perusahaan itu sendiri. Salah satu analisis untuk membuat perencanaan dan pengendalian keuangan yang baik adalah dengan melakukan analisis rasio keuangan. Rasio  keuangan merupakan alat analisis keuangan perusahaan untuk menilai kinerja suatu perusahaan berdasarkan perbandingan data keuangan yang terdapat pada pos laporan keuangan (neraca, laporan laba/rugi, laporan aliran kas). Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain.
Menurut Harahap (1997) Rasio keuangan merupakan angka yang diperoleh dari perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan.
Selain itu pengertian lain menyebutkan, Pengertian “ Rasio “ merupakan alat yang dinyatakan dalam arithmetical term yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua macam data finansial. Analisis rasio dapat digunakan untuk membimbing investor dan kreditor untuk membuat keputusan atau pertimbangan tentang pencapaian perusahaan dan prospek di masa datang. Salah satu cara pemrosesan dan penginterpretasian informasi akuntansi, yang dinyatakan dalam artian relatif maupun absolut untuk menjelaskan hubungan tertentu antara angka yang satu dengan angka yang lain dari suatu laporan keuangan.
Analisis rasio keuangan menggunakan data laporan keuangan yang telah ada sebagai dasar penilaiannya. Meskipun didasarkan pada data dan kondisi masa lalu, analisis rasio keuangan dimaksudkan untuk menilai resiko dan peluang di masa yang akan datang. Pengukuran dan hubungan satu pos dengan pos lain dalam laporan keuangan yang tampak dalam rasio-rasio keuangan dapat memberikan kesimpulan yang berarti dalam penentuan tingkat kesehatan keuangan suatu perusahaan. Tetapi bila hanya memperhatikan satu alat rasio saja tidaklah cukup, sehingga harus dilakukan pula analisis persaingan-persaingan yang sedang dihadapi oleh manajemen perusahaan dalam industri yang lebih luas, dan dikombinasikan dengan analisis kualitatif atas bisnis dan industri manufaktur, analisis kualitatif, serta penelitian-penelitian industri.
2.2.2.      Jenis-jenis Rasio Keuangan
Banyak para ahli yng menyodorkan jenis-jenis rasio keuangan yang menurut mereka cocok untuk memahami perusahaan. Namun secara umum jenis rasio yang sering digunakan adalah sebagai berikut:
a.       Rasio Liquiditas
b.      Rasio Laverage
c.       Rasio Aktivitas
d.      Rasio Profitabilitas
a.      Rasio Liquiditas
Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya.
Beberapa rasio liquiditas adalah sebagai berikut
1.      Rasio Lancar (Current Ratio)
Rasio ini menunjukkan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajiban lancar. Rumusnya adalah
Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menutupi kewajiban jangka pendeknya.
2.      Rasio Kas ( Cash Ratio)
Rasio ini menunjukkan kemampuan untuk membayar hutang jangka pendek dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan. Rumus untuk menghitung rasio ini adalah sebagai berikut:
3.      Rasio Cepat ( Quick Ratio)
Rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling liquid mampu menutupi hutang lancar. Semakin besar rasio ini semakin baik. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus :

4.      Working Capital to Total Assets Ratio
Rasio ini menunjukkan liquiditas dari total aktiva dan posisi modal kerja. Rumusnya adalah sebagaai berikut:

b.      Rasio Leverage
Rasio ini menggambarkan hubungan antara hutang perusahaan terhadap modal maupun aset. Rasio ini dapat melihat seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh hutang atau pihak luar dengan kemampuan perusahaan yang digambarkan oleh modal. Beberapa jenis rasio ini antara lain sebagai berikut:
1.      Total Debt to Total Equity Ratio
Rasio ini menunjukkan bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang menjadi jaminan untuk keseluruhan hutang. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
2.      Total debt to Total Capital Assets
Rasio ini meneggambarkan berapa bagian dari keseluruhan kebutuhan dana yang dibelanjai dengan hutang. Atau berapa bagian dari aktiva yang digunakan untuk menjamin hutang. Rumus untuk menghitung rasio ini adalah sebagai berikut:
3.      Long Term Debt to Equity Ratio
Rasio ini menggambarkan bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk utang jangka panjang. Rumus untuk menghitung rasio ini adalah sebagai berikut:
4.      Tangible Assets Debt Coverage
Rasio ini menggambarkan besarnya aktiva tetap tangible yang digunakan untuk menjamin hutang jangka panjang setiap rupiahnya. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
5.      Times Interest Earned Ratio
Besarnya jaminan keuntungan untuk membayar bunga utang jangka panjang. Rumus menghitung rasio ini adalah sebagai berikut:

c.       Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam kegiatan penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya. Rasio ini diantaranya :
1.      Total Aseets Turnover
Rasio ini menggambarkan Kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva berputar dalam suatu periode tertentu atau kemampuan modal yang diinvestasikan untuk menghasilkan revenue. Rasio ini dihitung dengan rumus  sebagai berikut:
2.      Receivable Turnover
Rasio ini menggambarkan kemampuan dana yang tertanam dalam piutang dalam piutang berputar dalam suatu periode tertentu. Rumus untuk menghitung rasio ini adalah sebagai berikut:
3.      Average Collection Periode
Rasio ini menggambarkan periode rata-rata yang diperlukan untuk mengumpulkan piutang. Rumus untuk menghitung rasio ini adalah sebagai berikut:
4.         Inventory Turnover
Rasio ini menggambarkan Kemampuan dana yang tertanam dalam inventory berputar dalam suatu periode tertentu atau likuiditas dari inventory dan tendensi untuk adanya overstock. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
5.      Average day’s Inventory
Rasio ini menggambarkan Periode menahan persediaan rata-rata periode rata-rata persediaan barang berada di gudang. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
6.      Working Capital Turnover
Rasio ini menggambarkan kemampuan modal kerja (netto) berputar dalam suatu periode siklus kas ( cash cycle ) dari perusahaan. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

d.        Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan dan sebagainya. Beberapa rasio profitabilitas diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Gross Profit Margin
Rasio ini menggambarkan laba bruto per rupiah penjualan. Rumus untuk menghitung rasio ini adalah:


2.      Operating Profit Margin
Rasio ini menggambarkan laba operasi sebelum bunga dan pajak yang dihasilkan oleh setiap rupiah penjualan. Rasio ini dihitung dengan rumus sebagai berikut:
3.      Operating Rasio
Rasio ini menggambarkan biaya operasi per rupiah penjualan, makin besar rasio ini semakin buruk. Rumus untuk menghitung rasio ini adalah sebagai berikut:
4.      Net Profit Margin
Rasio ini menggambarkan keuntungan neto per rupiah penjualan. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
5.      Earning Power of total Investment ( Rate of Return on Total assets)
Rasio ini menggambarkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi semua investor. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

6.      Net Earning Power Ratio ( ROI / Return On Invesment)
Rasio ini menngambarkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan neto. Rasio ini dapat dihitung dangan rumus sebagai berikut:
7.      Rate Of Return For The Owners ( Rate Of Return On Net Worth)
Rasio ini mengambarkan kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham preferen dan saham biasa.
Rumus untuk menghitung rasio ini adalah sebagai berikut:
8.      Return On Asssets ( ROA)
Rasio ini menggambarkan perputaraan aktiva diukur dari volume penjualan. Semakin besar rasio ini semakin baik kerena aktiva akan lebih cepat berputar dan memperoleh laba. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
9.      Return On Equity ( ROE)
Rasio ini menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih diukur bila diukur dari modal pemilik. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

2.2.3.      Metode Pendekatan Analisis Rasio Keuangan
Ada dua metode pendekatan analisis rasio keuangan, yaitu:
1.      Pendekatan Lintas Seksi (Cross Sectional Approach). Yaitu cara mengevaluasi dengan jalan membandingkan rasio-rasio antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya yang sejenis pada saat bersamaan. Dengan cara ini dapat diketahui apakah perusahaan yang bersangkutan berada di atas, berada pada rata-rata, atau berada dibawah rata-rata industri.
2.      Pendekatan Runtut Waktu (Time Series Analysis) Yaitu cara mengevaluasi dengan jalan membandingkan rasio-rasio finansial perusahaan dari satu periode ke periode lainnya. Dengan membandingkan antara rasio-rasio yang dicapai saat ini dengan rasio-rasio dimasa lalu yang dapat memperlihatkan apakah perusahaan mengalami kemajuan atau kemunduran. Perkembangan perusahaan terlihat dari tahun ke tahunnya, dan dengan melihat perkembangan ini perusahaan akan dapat membuat rencana untuk masa depannya.
2.2.4.      Keunggulan Rasio Keuangan
Menurut Harahap (1998) Analisis rasio keuangan memiliki keunggulan antara lain :
1.      Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan.
2.      Merupakan pengganti yng lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit.
3.      Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain.
4.      Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan keputusan dan model prediksi ( Z Score)
5.      Menstandarisir size perusahaan.
6.      Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik.
7.      Lebih mudah melihat tren perusahaan serta melakukan prediksi di masa yang akan datang.

2.2.5.      Manfaat Analisis Rasio Keuangan
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengkaji manfaat yang bisa dipetik dari analisis rasio keuangan. Seperti Altman (1968), merupakan penelitian awal yang mengkaji pemanfaatan analisis rasio keuangan sebagai alat untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan. Dengan menggunakan analisis diskriminan, fungsi diskriminan akhir yang digunakan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan memasukkan rasio-rasio keuangan berikut: working capital/total assets, retained earnings/total assets, earnings before interest and taxes/total assets, market value equity/book value of total debt, sales/total assets. Secara umum disimpulkan bahwa rasio-rasio keuangan tersebut bisa digunakan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan, dengan pendekatan multivariate. Dengan kata lain, pendekatan multivariate rasio keuangan bisa memberikan hasil yang lebih memuaskan.

2.2.6.      Keterbatasan Analisis Rasio  Keuangan
Selain memiliki keunggulan dan manfaat seperti yang telah dibahas di atas, rasio keuangan juga memiliki beberapa keterbatasan dan kelemahan.  Menurut Purnonugroho (2009), keterbatasan laporan keuangan, antara lain:
1.      Rasio tersebut dibentuk dari data akuntansi dan data ini dipengaruhi oleh cara penafsirannya dan bahkan dapat dimanipulasi.
2.      Seorang manajer keuangan harus berhati-hati dalam penilaian apakah suatu rasio tertentu baik atau buruk dalam penilaian gabungan tentang sebuah perusahaan, berdasarkan suatu kumpulan rasio-rasio.
3.      Kecocokan dengan rasio gabungan industri bukan suatu jaminan bahwa perusahaan tersebut sedang berjalan normal dan dipimpin dengan baik.
4.      Dalam menganalisa setiap rasio, angka-angka yang diperoleh dan perhitungan tidak dapat berdiri sendiri. Rasio tersebut akan berarti bila setidaknya satu dari dua hal ini dipenuhi 1)Adanya perbandingan dengan perusahaan sejenis yang mempunyai tingkat resiko yang hampir sama; 2)Adanya analisa kecenderungan (trend) dari setiap rasio pada tahun-tahun sebelumnya.
5.      Pencapaian target sesuai dengan rata-rata industri tidak menunjukkan kinerja perusahaan yang baik. Kebanyakan perusahaan justru menginginkan tingkat yang lebih baik dari rata-rata industri. Oleh karena itu lebih tepat jika difokuskan pada industry leader's ratios.

Sedangkan menurut Harahap (1998), keterbatasan analisis rasio keuangan antara lain:
1.      Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yang dapat digunakan untuk kepentingan pemakainya.
2.      Keterbatasan yang dimiliki akuntansi atau laporan keuangan juga menjadi keterbatasan teknik ini seperti;
a.       Bahan perhitungan rasio atau laporan keuanga itu banyak mengandung taksiran dan jugment yang dapat dinilai bias;
b.      Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dan rasio adalah nilai perolehan bukan nilai pasar;
c.       Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak pada angka rasio;
d.      Metode pencatatan yang tergambar dalam standar akuntansi bisa diterapkan berbeda oleh perusahaan yang berbeda.
3.      Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia, akan menimbulkan kesulitan menghitung rasio.
4.      Sulit jika data yang tersedia tidak sikron.
5.      Dua perusahaan dibandingkan bisa saja teknik dan standar akuntansi yang dipakai tidak sama. Oleh karena itu, jika dilakukan perbandingan bisa menimbulkan kesalahan.



2.2.7.      Laporan Keuangan Sebagai Informasi Dalam Menilai Kinerja Perusahaan
Laporan keuangan merupakan hasil tindakan pembuatan ringkasan data keuangan perusahaan. Laporan keuangan ini disusun dan ditafsirkan untuk kepentingan manajemen dan pihak-pihak lain yang menaruh perhatian atau mempunyai kepentingan dengan data keuangan perusahaan.
Laporan keuangan yang dihasilkan perusahaan merupakan salah satu informasi yang dapat digunakan dalam menilai kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan adalah pengukuran prestasi perusahaan yang ditimbulkan sebagai akibat dari proses pengambilan keputusan manajemen yang kompleks dan sulit, karena menyangkut efektivitas pemanfaatan modal, efisiensi, dan rentabilitas dari kegiatan perusahaan. Laba merupakan salah satu indikator kinerja suatu perusahaan. Penyajian informasi laba merupakan fokus kinerja perusahaan yang penting. Para investor dan manajer akan melihat kinerja perusahaan berdasarkan kinerja keuangan dan kinerja operasional dari perusahaan.
Kinerja operasional perusahaan merupakan kinerja yang diperoleh perusahaan dengan menggunakan modal tetap perusahaan tanpa adanya hutang. Hal ini ditunjukkan melalui besar kecilnya laba operasional bersih setelah pajak / NOPAT (Net Operating Profit After Tax) yang diperoleh perusahaan. Sedangkan kinerja keuangan perusahaan merupakan kinerja yang diperoleh dari kinerja perusahaan dengan menggunakan hutang.
Oleh karena itu, penggunaan hutang diharapkan dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Jika hutang yang digunakan dapat meningkatkan kinerja perusahaan, maka penggunaan hutang memberikan manfaat bagi perusahaan.
Penggunaan laporan keuangan sebagai aspek penilaian kinerja didasarkan atas informasi akuntansi, yang mencerminkan nilai sumber daya yang diperoleh perusahaan dari bisnisnya dan juga yang dikorbankan oleh para manajer untuk menjalankan aktivitas bisnis perusahaan.
Kinerja perusahaan diwujudkan dalam berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan perusahaan karena setiap kegiatan tersebut memerlukan sumber daya, maka kinerja perusahaan akan tercermin dari penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan perusahaan. Pentingnya laporan keuangan sebagai informasi dalam menilai kinerja perusahaan, mensyaratkan laporan keuangan haruslah mencerminkan keadaan perusahaan yang sebenarnya pada kurun waktu tertentu. Sehingga pengambilan keputusan yang berkaitan dengan perusahaan akan menjadi tepat, dengan demikian pemegang saham dapat menjadikan laporan keuangan sebagai informasi yang berguna dalam pengambilan keputusannya sebagai pemegang saham perusahaan. Salah satu bentuk informasi akuntansi yang penting dalam proses penilaian kinerja perusahaan adalah berupa rasio-rasio keuangan perusahaan untuk perioda tertentu. Dengan rasio-rasio keuangan tersebut akan tampak jelas berbagai indikator keuangan yang dapat mengungkapkan kondisi keuangan suatu perusahaan maupun kinerja yang telah dicapai perusahaan untuk suatu perioda tertentu.
Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan. Analisis laporan keuangan khususnya memperhatikan pada penghitungan rasio keuangan agar dapat mengevaluasi keadaan pada masa lalu, sekarang dan proyeksi hasil di masa datang.
Pada dasarnya angka-angka rasio dapat digolongkan menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah angka-angka rasio yang didasarkan pada sumber data keuangan dimana unsur-unsur angka rasio tersebut diperoleh, dan golongan kedua adalah angka-angka rasio yang disusun berdasarkan tujuan penganalisa dalam mengevaluasi perusahaan.

2.2.8.       Hubungan antara Rasio Keuangan dengan Laba
Kinerja suatu perusahaan merupakan hasil dari suatu proses dengan mengorbankan berbagai sumber daya. Salah satu parameter kinerja tersebut adalah laba. Laba bagi perusahaan sangat diperlukan karena untuk kelangsungan hidup perusahaan. Untuk memperoleh laba, perusahaan harus melakukan kegiatan operasional.
Kegiatan operasional ini dapat terlaksana jika perusahaan mempunyai sumber daya. Sumber daya perusahaan tercantum di dalam neraca, dan hubungan antara unsur-unsur yang membentuk neraca dapat ditunjukkan oleh rasio keuangan. Rasio keuangan adalah perbandingan antara dua elemen laporan keuangan yang menunjukkan suatu indikator kesehatan keuangan pada waktu tertentu. Dengan demikian, rasio keuangan bermanfaat untuk menentukan kekuatan hubungan rasio keuangan dengan fenomena ekonomi. Laba dapat memberikan sinyal yang positif mengenai prospek perusahaan di masa depan tentang kinerja perusahaan.
Dengan adanya pertumbuhan laba yang terus meningkat dari tahun ke tahun, akan memberikan sinyal yang positif mengenai kinerja perusahaan. Pertumbuhan laba perusahaan yang baik mencerminkan bahwa kinerja perusahaan juga baik. Karena laba merupakan ukuran kinerja dari suatu perusahaan, maka semakin tinggi laba yang dicapai perusahaan, mengindikasikan semakin baik kinerja perusahaan. Dengan demikian apabila rasio keuangan perusahaan baik, maka pertumbuhan laba perusahaan juga baik.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hubungan antara analisis rasio keuangan dengan kinerja keuangan adalah dengan menggunakan analisis rasio keuangan maka perusahaan dapat merencanakan dan mengatur segala kebutuhan perusahaan untuk mengukur kekuatan dan kelemahan dalam mencapai dan meningkatkan apa yang di cita-citakan perusahaan.

2.3.      Penelitian Sebelumnya
Beberapa penelitian mengenai manfaat rasio keuangan sudah pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian tersebut antara lain telah dilakukan oleh O’Connor (1973) meneliti kegunaan rasio keuangan untuk menentukan keuntungan saham, dengan variabel 10 rasio keuangan dengan sampel 127 perusahaan. Analisis dilakukan dengan cara univariate dan multivariate dan ditemukan 5 rasio kategori profitabilitas mempunyai hubungan yang kuat untuk memprediksi keuntungan saham.
Beaver (1966) dalam Meriewati (2005) dan Hidayat (2009), mengungkapkan bahwa rasio keuangan secara signifikan berhubungan dengan  dalam Meriewati (2009) kebangkrutan perusahaan. Penelitian ini dilanjutkan oleh Altman (1986) dalam m dalam Hidayat (2009) yang  mengungkapkan bahwa rasio keuangan dari profitalibitas, liquiditas dan dan solvency yang memprediksi kebangkrutan perusahaan.
Ou dan Penman (1989) dalam Meriewaty (2005) memprediksi keuntungan saham dengan 68 rasio keuangan dengan stepwise regression. Hasil seleksi menunjukkan terdapat 16 rasio keuangan untuk periode 1965 – 1972 dan 18 rasio keuangan untuk periode 1973 – 1977 yang signifikan untuk memprediksi keuntungan saham. Ditemukan bahwa informasi akuntansi (rasio keuangan) mengandung informasi fundamental yang tidak tercermin dalam harga saham. Rasio keuangan terbaik dalam memprediksi laba mendatang adalah rasio profitabilitas.
Di Indonesia sendiri, Machfoedz (1994) dalam Hidayat (2009) menggunakan rasio keuangan dalam memprediksikan laba. Asyik dan Soelistyo (2000) dalam Meriewaty dan Astuti (2005) mengungkapkan dalam penelitiannya menggunakan 21 rasio keuangan dalam memprediksi laba dengan menggunakan metode discriminant analysis. Adapun sampel penelitian menggunakan perusahaan manufaktur dengan perioda penelitian tahun 1995-1996. Hasil penelitiannya adalah 5 rasio keuangan merupakan discriminator yang signifikan dalam memprediksi laba di masa yang akan datang.
Selain itu, Asmanah (2009) menggunakan rasio laverage, rasio liquiditas dan rasio solvabitilas untuk menilai kinerja keuangan perusahaan kosmetik yang go publik untuk periode 2005 sampai 2007. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa kinerja keuangan semua perusahaan kosmetik profit dan solvabel.

2.4.      Kerangka Berpikir
·  Current Ratio
·  Quick Ratio
·  Working Capital to Total Assets
·  Gross Profit Margin
·  Net Profit Margin
·  Operating Profit Margin
·  Retunt On Invesmen
·  Retunt On Equity
Operating Profit (OP)
Earning After Tax (EAT)
                                                       






Gambar 2-1 : Kerangka Berpikir

2.5.      Hipotesis
Berdasarkan landasan teori yang telah dikemukakan di atas maka hipotesis untuk penelitian ini adalah
H01 : Current Ratio, Quick Ratio, Working Capital to Total asset  tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan kosmetik dan household yang terdaftar di BEI.
Ha1 : Current Ratio, Quick Ratio, Working Capital to Total asset berpengaruh terhadap kinerja perusahaan kosmetik dan household yang terdaftar di BEI.
H02 : Gross Profit Margin, Net Profit Margin, Operating Profit Margin, Return On Investment, Return On Equity, tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan kosmetik dan household yang terdaftar di BEI.
Ha2 : Gross Profit Margin, Net Profit Margin, Operating Profit Margin, Return On Investment, Return On Equity berpengaruh terhadap kinerja perusahaan kosmetik dan household yang terdaftar di BEI.



BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1. Objek dan ruang lingkup penelitian
Penelitian merupakan suatu proses yang sistematis yang dilakukan melalui langkah langkah untuk memecahkan permasalahan yang sedang diteliti. Untuk memecahkan permasalahan yang sedang diteliti maka dibutuhkan data-data yang akurat dan up to date. Penelitian ini berlokasi pada perusahaan-perusahaan kosmetik dan household yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Objek yang diteliti dalam penelitian ini  merupakan laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan kosmetik dan household yang digunakan untuk menganalisis rasio-rasio yang akan diteliti.

3.2. Sampel dan Data Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini  adalah data sekunder yaitu data laporan keuangan perusahaan berupa neraca dan laporan laba rugi perusahaan kosmetik dan household yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2007 sampai 2009. Prosedur dalam menentukan sampel penelitian ini adalah menggunakan pendekatan non probability random sampling dengan menggunakan metode purposive sampling, yaitu populasi yang akan dijadikan sampel penelitian adalah populasi yang memenuhi kriteria sampel tertentu sesuai dengan yang dikehendaki oleh peneliti. Kriteria yang diajukan adalah sebagai berikut:
1.      Perusahaan tersebut termasuk kelompok perusahaan kosmetik dan household yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2.      Perusahaan mempublikasikan laporan keuangan triwulan selama periode 2007 sampai 2009.
Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan maka peneliti mengambil 3 (tiga) perusahaan untuk dijadikan sampel penelitian dari 4 (empat) perusahaan yang menjadi populasi penelitian.
Adapun peusahaan yang akan dijadikan sampel adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1
Perusahan Kosmetik dan Household yang Menjadi Sampel Penelitian
No
Kode
Nama Perusahaan
1
TCID
PT. Mandom Indonesia, Tbk
2
MRAT
PT. Mustika Ratu, Tbk
3
UNVR
PT. Unilever Indonesia, Tbk
Sumber: idx statistik, 2008

3.3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik Library Research yaitu pengumpulan data dengan cara melakukan pengkajian terhadap buku-buku, jurnal-jurnal, artikel-artikel dan laporan keuangan serta melalui situs website yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang diteliti.
Data sekunder tersebut didapat dari website resmi Bursa efek Indonesia dan di download melalui alamat  www.idx.co.id.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah gabungan data cross section untuk beberapa jenis perusahaan dari satu periode yang sama dan data time series (runtut waktu), yang diistilahkan dengan data pooled cross section-time series.

3.4. Definisi Operasional Variabel
Berdasarkan hipotesis yang telah disusun, maka variabel yang diperhatikan dalam penelitian ini dapat didevinisikan sebagai berikut:
a.       Operating Profit  sebagai variabel dependen pertama (Y1), yaitu laba usaha sebelum bunga dan pajak atau sering disebut EBIT.
b.      Earning After Tax (EAT) sebagai variabel dependen kedua (Y2) yaitu jumlah keuntungan/laba yang didapat setelah pajak.
c.       Current Rasio sebagai independen variable (variabel bebas)/ (X1)yaitu Rasio yang  menunjukkan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajiban lancar. Rumusnya adalah
d.      Quick Ratio sebagai independent variable (X2) yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan membayar hutang jangka pendek dengan aktiva lancar yang lebih liquid. Rumusnya adalah
e.       Working Capital to Total Assets sebagai independent varable (X3) yaitu rasio yang menunjukkan likuiditas dari total aktiva dan posisi modal kerja. Rumusnya adalah

f.       Gross Profit Margin sebagai independent varable (X4) yaitu rasio yang menunjukkan laba bruto per rupiah penjualan. Rumusnya adalah

g.      Net Profit Margin sebagai independent variable (X5) yaitu rasio yang menunjukkan keuntungan netto per rupiah penjualan. Rumusnya adalah

h.      Operating Profit Margin sebagai independent variable (X6) yaitu rasio yang menunjukkan keuntungan sebelum bunga dan pajak yang dihasilkan dari setiap rupiah penjualan. Rumusnya adalah

i.        Return On Invesment sebagai independent variable (X7) yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan netto. Rumusnya adalah

j.        Return On Equity sebagai independent variable (X8) yaitu rasio yang menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih diukur bila diukur dari modal pemilik. Rumusnya adalah

3.5. Metode Analisis Data
3.5.1. Model Statistik
Untuk mengetahui tingkat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen, digunakan model analisis dalam bentuk persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:

EAT = α + b1CR + b2QR + b3WCTA + b4GPM + b5NPM + b6OPM + b7ROI +b8ROE
OP = α + b1CR + b2QR + b3WCTA + b4GPM + b5NPM + b6OPM + b7ROI + b8ROE
Dimana:
EAT =  Earning After Tax ( Y1)
OP = Operating Profit (Y2)
b1 - b8 = koefien regresi
CR = Current Ratio  (X1)
QR = Quick ratio (X2)
WCTA = Working Capital to total Asset (X3)
GPM = Gross Profit Margin (X4)
NPM = Net Profit Margin (X5)
OPM = Operating Profit Margin (X6)
ROI = Return On Investment (X7)
ROE = Return On Equity (X8)
Pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen diuji dengan tingkat kepercayaan (convident interval) 95% atau signifikan level 5%.
3.6. Uji Asumsi Klasik
Dalam suatu penelitian, kemungkinan terjadinya masalah dalam analisis regresi cukup sering terjadi dalam mencocokkan model prediksi ke dalam sebuah model yang telah dimasukkan ke dalam serangkaiaan data. Masalah ini sering disebut dengan pengujian asumsi klasik yang didalamnya termasuk pengujian normalitas, multikolinearitas, heterokedisitas, dan autokorelasi. Pengujian ini juga dimaksudkan agar persamaan regresi yang dipergunakan dalam masing-masing model analisis memenuhi kriteria BLUE (Gujaradi 1999 dalam Hidayat 2009), yaitu Best dengan maksud untuk memberikan model analisis yang terbaik; Linear, dan merupakan kombinasi linear dari data sampel; Unbiased dan juga memiliki rata-rata atau nilai harapan yang sama dengan nilai sebenarnya; Efficient estimator dan terakhir memiliki varians yang menimal diantara pemerkira lain yang tidak bias.

3.6.1. Uji Normalitas Data
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat (dependent) dan variabel bebas (independent) memiliki konstribusi normal atau tidak. Untuk mengetahui model regresi yang baik yaitu apabila variabel-variabel yang diteliti mempunyai konstribusi normal atau mendekati normal. Ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak, yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik. Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan kedua analisis tersebut yaitu analisis dengan grafik menggunakan grafik normal plot dan uji statistik dengan uji statistik non parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S).

3.6.2. Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah terdapatnya lebih dari satu hubungan linear pasti (sempurna). Dimana suatu keadaaan yang satu atau lebih variabel bebasnya terdapat korelasi dengan variabel bebasnya yang lain. Adanya multikolinearitas dapat dilihat dari Tolerance Value atau nilai Variance Inflation Factor (VIF), yaitu dengan rumus sebagai berikut: (Ghozali 2005:108)
R2/k  adalah koefisien determinasi (R2) berganda ketika Xk diregresikan dengan variabel-variabel  X lainnya. Batas Tolerance Value adalah 0,01 dan batas VIF adalah 10.
Dimana ;
Tolerance value < 0,01 atau VIF > 10 terjadi multikolinearitas.
Tolerance value > 0,01 atau VIF < 10 tidak terjadi multikolinearitas

3.6.3. Uji Heterokedastisitas
Heterokedastisitas muncul apabila kesalahan atau residual dari modal yang diamati tidak memiliki varians yang konstan dari suatu observasi lain. Gejala heterokedastisitas dapat diuji dengan melihat ada tidaknya pola tertentu yang tergambar pada scatterplot, dasar pengambilan keputusan jika ada pola tertentu  yang teratur (gelombang melebar kemudian menyempit), maka telah terjadi heterokedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titiknya menyebar diatas angka 0 pada sumbu Y maka tidak terjadi heterokedastisitas. (Ghozali 2005)

3.6.4. Uji autokorelasi
Autokorelasi adalah korelasi antar anggota sampel yang diurutkan berdasarkan waktu. Autokorelasi menunjukkan adanya kondisi yang berurutan antara gangguan atau distribusi yang masuk dalam regresi (Algifari, 1997). Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi antara anggota serangkaian data observasi yang diurutkan menurut waktu (time series). Salah satu pengujian umum yang digunakan untuk mengetahui adanya autokorelasi adalah dengan memakai uji statistik Durbin-Watson yang dikembangkan oleh J. Durbin dan G. Watson pada tahun 1951. Menurut Gurajati (2005) dalam Taufik (2009) pengujian Durbin-Watson atau d statistik dihitung dengan rumus:
Santono (2000) dalam Hidayat (2009) menyatakan secara umum dengan menggunakan angka Durbin-Watson bisa diambil patokan:
1.      Angka D-W dibawah -2 berarti ada autokolerasi positif.
2.      Angka D-W diantara -2 sampai dengan +2 berarti tidak ada autokolerasi.
3.      Angka D-W diatas +2 berarti ada autokolerasi.

3.7.            Pengujian Hipotesis
Untuk pengujian hipotesis, sejauh mana rasio-rasio keuangan (likuiditas dan profitabilitas) mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan dari model yang telah dirumuskan yaitu:
EAT = α + b1CR + b2QR + b3WCTA + b4GPM + b5NPM + b6OPM + b7ROI +b8ROE
dan
OP = α + b1CR + b2QR + b3WCTA + b4GPM + b5NPM + b6OPM + b7ROI + b8ROE
Model analisis ini akan dilakukan uji model dengan data yang ada sehingga diyakini bentuk persamaan modal yang pasti. Dari persamaan model tersebut akan dihitung R2 (coefficient of determination) yang menunjukkan persentase dari variasi variabel Earning After Tax (EAT) dan Operating Profit (OP) yang mampu dijelaskan oleh model. Uji koefisien determinan (R2) , melihat berapa proporsi variasi variabel bebas secara bersama-sama mempengaruhi variabel terikat dengan bantuan software statistik SPSS nilai koefisien determinasi (R2) ini diperoleh.
Selanjutnya setelah nilai koefisien determinasi diperoleh, langkah selanjutnya adalah melakukan uji statistik untuk melihat pengaruh yang diberikan oleh variabel bebas terhadap variabel terikat yaitu dengan menggunakan:
1.      Uji t statistik, untuk menguji pengaruh secara parsial variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat dengan asumsi bahwa variabel lain dianggap konstant, dengan tingkat keyakinan 95% (α = 0,05). Kinerja pengujian yaitu:
Jika t hitung > t tabel  maka H0 ditolak dan Ha diterima.
Jika t hitung < t tabel  maka Ha ditolak dan H0 diterima.
2.      Uji F statistik, untuk menguji pengaruh secara simultan variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat dengan tingkat keyakinan 95% (α = 0,05). Kinerja pengujiannya yaitu:
3.      Jika F hitung > F tabel  maka H0 ditolak dan Ha diterima.
4.      Jika F hitung < F tabel  maka Ha ditolak dan H0 diterima.


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


DAFTAR PUSTAKA

Asmanah, Nur. (2009). Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Pada Perusahaan Kosmetik Go Public Di Bursa Efek Indonesia. Skripsi.  Retrieved July 03, 2010, from Universitas Pancasakti Tegal Library. (abstract)
Fianka, Vandana. (2008) Pengertian Kinerja. Retrieved November 12, 2010, from http://fianka.wordpress.com/2008/09/11/pengertian-kinerja/
Ghozali, Imam. (2005). Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Penerbit Badan Pusat universitas Dipenogoro. Semarang
Harahab, Sofyan Syafri.(1997). Analisis Kritis Terhadap Laporan Keuangan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Hidayat, Taufik. (2009). Analisis Rasio Keuangan terhadap Return saham pada perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Tesis. Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatra Utara Medan.
Meriewaty, Dian & Astuti Yuli Setyani. (2005). Analisis Rasio Keuangan Terhadap Perubahan Kinerja Keuangan Perusahaan di Industri Food and Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Artikel. Universitas Kristen Duta Wacana.
Munawir. (2004). Analisis Laporan Keuangan. Penerbit Liberty. Yokyakarta
Riyanto, Bambang.(1991). Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yayasan Badan Penerbit Gadjah Mada. Yogyakarta.
Santoso, Singgih. (2010). Statistik Parametrik konsep dan aplikasi dengan SPSS. Alex Media Komputindo. Jakarta.
Setiawaty, Irene. (2006). Analisis Kinerja Keuangan Empat Perusahaan "Go Public" Dalam Kelompok Industri Kosmetik Dan Barang Keperluan Rumah Tangga Periode 1998 – 2002. Tesis. Retrieved July 03, 2010, from Unika Atma Jaya Database. (abstract)
Setyowati, Retno Tri. (2008). Analisis Rasio Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan Costumer Goods. Skripsi. Fakultas Ekonomi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Sucipto. (2003). Penilaian Kinerja Keuangan. Retrieved Oktober 12, 2010, from Jurnal Akuntansi Usu Digital Library.
Pranata, Yudha.(2007). Pengaruh Penerapan Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan. Sripsi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
Purwonugroho. (2009). Rasio keuangan. Retrieved Oktober 12, 2010, from http://www.purwonugroho.co.cc/2009/06/rasio-keuangan.html
38
________(2010)http://www.idx.co.id

Tidak ada komentar: