Laman

Selasa, 04 Desember 2012

Teknik budidaya dan analisis usaha buah naga


BAB VI
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Budidaya Buah Naga
Kecamatan Peureulak Barat yaitu merupakan salah satu daerah penghasil buah naga yang paling baik di Kabupaten Aceh Timur dari segi kualitas karena di Kecamatan Peureulak Barat menggunakan pupuk kandang sehingga buahnya awet, dan tahan lama selain itu juga keadaan iklimnya cocok untuk mengembangkan budidaya buah naga. Karena di Kecamata Peurelak Barat mempunyai panas dan cuaca yang paling baik.
Warga Peureulak Barat mulai membudidayakan buah naga tahun 2000 yang mana hanya untuk ajang coba-coba, tetapi malah menjadi peluang yang sangat besar bagi petani di Kecamatan Peureulak Barat sendiri. Semakin lama pembudidayaan buah naga ini semakin menguntungkan dan mempunyai hasil yang baik dan menjanjikan.
Selain itu juga untuk memberi contoh pada petani yang lain agar tidak hanya menjadi petani atau penghasil saja tetapi juga sebagai suplayer sehingga tidak hanya menanam, merawat, memanen dan menjual buahnya saja. Tetapi memproses buah yang tidak laku dipasaran menjadi sebuah produk yang sangat diminati oleh masyarakat luas. Sehingga dengan seperti itu petani mendapatkan keuntungan tambahan dari budidaya buah naga sendiri.
Proses pembudidayaan yang dilakukan oleh petani Alubu mulai dari proses pembibitan, pengolahan tanah, perawatan, pemanenan dan pasca panen.


1. Pembibitan
Perbanyakan tanaman merupakan hal yang penting dan hal yang paling pokok dalam membudidayakan suatu tanaman dari tanaman sayur sampai buah – buahan. Pembibitan buah naga dapat dilakukan dengan cara vegetatif dan generatif. Dengan perbanyakan generatif yaitu upaya mendapatkan tanaman baru menggunakan biji. Dengan perbanyakan tanaman dengan melalui sistem ini keuntungannya yaitu bibit yang diperoleh akan seragam dan mempunyai perakaran yang kuat. Namun untuk mendapatkan bibit yang diinginkan waktu yang dibutuhkan relative lama sehingga petani jarang menggunakan sistem ini.
Perbanyakan vegetetif yaitu dengan stek cabang atau batang. Petani buah naga biasanya menggunakan sistem stek karena selain pertumbuhan dan waktunya singkat juga menghasilkan rasa buah yang sama dengan indukkannya. Batang yang digunakan untuk stek batang atau cabang harus dalam keadaaan sehat, keras, tua, sudah pernah berbuah 3 – 4 kali dan batang atau cabang berwarna hijau tua. Ukuran stek pada tanaman buah naga yang ideal yaitu antara 20 – 30 cm, tetapi juga ada yang membuat bibit dengan panjang 40 cm. digunakan stek dengan ukuran tersebut karena batang harus mempunyai banyak mata tunas sehingga dapat membentuk tunas baru dan tunas yang tumbuh akan cepat membesar.
Selain itu bibit yang baik yaitu bibit yang mempunyai minimal empat mata
tunas atau lebih. Yang mana dilakukan seperti itu supaya tanaman cepat menghasilkan cabang- cabang yang produktif. Selain itu diameter batang bibit juga berpengaruh terhadap kualitas bibit atau tanaman.
Sulur atau cabang yang akan dijadikan bibit di potong sepanjang 20 – 40 cm kemudian bagian sulur yang akan ditanam atau ditancapkan ditanah diruncingkan supaya tidak terbalik dalam penanamannya, selain itu juga agar akar yang muncul banyak sehingga tanaman kuat. Pemotongan atau pembuatan bibit ini dilakukan menggunakan gunting yang bersih, tajam dan steril. Pemotongan dilakukan seperti itu supaya bibit mudah membentuk akar. Sebelum ditanam pada lahan semai atau polybag bibit diangin – anginkan selama 2 - 3 hari untuk mengeringkan atau menghilangkan getah pada bekas potongan agar sulur tidak cepat membusuk. Penanaman bibit pada lahan semai atau polybag yaitu menggunakan tanah yang sedikit berpasir dan ditambah dengan pupuk kandang dan dolomit perbandingannya yaitu 2 (tanah) : 1 (pupuk kandang). Waktu yang digunakan untuk membentuk akar tanaman buah naga hanya memerlukan waktu selama 3 minggu dimana bibit disemaikan dirumah kaca atau diberi sungkup plastik agar tidak terkena sinar matahari langsung. Setelah tunas bermunculan pilih satu tunas yang sehat, kuat dan besar dengan posisi tunas pada ujung atau mendekati ujung stek, dan tunas yang lain dipotong, jika muncul lagi cabang yang tidak diinginkan di potong sampai bibit benar – benar siap untuk ditanam pada lahan (Daniel Kristanto, 2009).
2. Pengolahan Tanah dan Pemberian Panjatan atau Tiang Panjatan
Pada budidaya buah naga pengolahan tanah dilakukan sebelum dilakukannya penanaman pada lahan pertanian. Pengolahan tanah sendiri dibuat dengan sistem bedengan yang mana ukuran bedengan yang digunakan yaitu 2,5 x 3 m sesuai dengan kebutuhan.
Persiapan lahan dilakukan dengan memperhatikan karakter dan sifat tanah yang akan ditanami buah naga. Untuk memperbaiki struktur dan sifat tanah pemilik lahan hanya mencampur tanah lahan pertanian, pupuk organik. Setelah lahan siap dan sambil menunggu pembibitan selesai petani menyiapkan panjatan untuk tanaman buah naga. Karena buah naga merupakan tanaman epifit dan merambat sehingga tanaman buah naga membutuhkan panjatan. Tiang panjatan yang digunakan haruslah kuat. Disini petani buah naga menggunakan panjatan yang dibuat dari bambu yang berukuran besar agar sanggup menopang tanaman buah naga dengan tinggi 2 – 2,5 m.
3. Penanaman Buah Naga
Penanaman tanaman buah naga dilakukan setelah bibit sudah muncul akar. Akar buah naga termasuk dalam akar serabut. Penanaman ini dilakukan setelah lahan siap dan tanah yang akan digunakan untuk menanam tanaman buah naga ini sebaiknya digemburkan terlebih dahulu, dimaksudkan agar tanaman dapat tumbuh dan akar dapat berkembang dengan baik. Penanaman buah naga pada satu tiang panjatan diletakkan atau ditanam satu atau dua bibit buah naga. Pembuatan lubang tanam disesuaikan dengan ukuran panjang bibit. Bibit yang ditanam harus merapat pada tiang panjatan sedalam 5 – 7 cm. Setelah bibit ditanam yaitu dalam 1 tiang panjatan satu bibit, bibit diikat kuat dengan tiang panjatan menggunakan tali raffia atau menggunakan kawat supaya bibit tidak roboh. Setelah semua selesai bibit tinggal dilakukan perawatan yaitu menjaga agar tanaman tetap tumbuh dan tidak terserang hama dan penyakit.


4. Perawatan Buah Naga
Perawatan yang dilkukan oleh petani biasanya pengairan, pemupukan, dan pemangkasan. Untuk perawatan buah naga tidaklah sulit. Untuk perawatannya sendiri tanaman buah naga yang paling penting adalah tanaman buah naga harus mendapatkan sinar matahari penuh dan memperoleh air yang cukup. Perawatan yang dilakukan biasanya adalah pengairan, pemupukan, dan pemangkasan.
a.       Pengairan
Pada tahap awal perturnbuhan pengairan dilakukan 1 minggu sekali. pemberian air berlebihan akan menyebabkan terjadinya pembusukan.
b.      Pemupukan
Pernupukan tanaman diberikan pupuk kandang, dengan interval pemberian sebanyak   5-10 Kg. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Sementara belum ditemukan adanya serangan hama dan penyakit yang potensial. Pembersihan lahan atau pengendalian gulma dilakukan agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman
c.       Pemangkasan
Batang utama ( primer ) dipangkas, setelah tinggi mencapai tiang penyangga ( sekitar 2 m), dan ditumbuhkan 2 cabang sekunder, kemudian dari masing-masing cabang sekunder dipangkas lagi dan ditumbuhkan 2 cabang tersier yang berfungsi sebagai cabang produksi.


5. Pemanenan Buah Naga
Pemanenan buah naga dilakukan ketika kulit buah naga berwarna merah merata dan telah masak optimal. Pemanenan buah biasanya menggunakan gunting agar pangkal buah dan pilar tidak rusak. Sebelum diadakannya pemanenan buah ada beberapa prosedur yang harus diperhatikan yaitu pemilihan buah siap petik dan cara pemetikan. Jika salah satu tidak diperhatikan maka akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas buah.
Pemilihan buah siap petik sangat diperlukan untuk mendapatkan buah dengan kualitas baik dengan masak panen. Hal ini dilakukan agar konsumen puas dengan buah yang dibeli atau ditanamnya. Kriteria buah yang dipanen yaitu yang mempunyai tanda – tanda buah yang warna kulitnya sudah menjadi merah tua atau merah mengkilap, mahkota bunga sudah mengerut atau mengecil dan jumbai buah sudah berubah menjadi kemerahan. Jika sudah mengetahui ciri – ciri buah yang telah masak panen langkah selanjutnya yaitu pemetikan buah.
Pemetikan buah ini ada cara atau tehnik agar tidak merusak buah dan pilar. Kesalahan dalam pemetikan buah akan mempengaruhi harga jual buah naga sehingga keuntungan yang didapat petani tidak dapat maksimal. Pemetikan buah dilakukan dengan cara memotong buah pada tangkainya menggunakan gunting pangkas.
Pemotongan buah naga menurut letak buahnya ada dua jenis yaitu pemotongan buah yang menempel pada cabang dan pemotongan buah bertangkai panjang. Pemetikan buah yang menempel pada cabang ini perlu dilihat betul posisi buah yang akan dipetik agar tidak merusak buah.
Buah yang akan dipetik dipegang dan digerakkan kekanan dan kekiri lalu keatas dan kebawah. Hal itu dilakukan untuk memperhatikan bagian yang paling mudah untuk memotong buah. Jika buah menempel erat pada cabang atau batang maka pemotongan dilakukan dari samping disekitar buah naga yang akan dipetik, buah seperti ini biasanya berbentuk bulat dan membesar. Posisi yang kedua yaitu pemotongan buah yang bertangkai panjang. Pada pemotongan buah ini merupakan pemotongan yang paling mudah dilakukan karena dapat dilakukan dari segala arah.
Buah yang memiliki tangkai agak panjang ini biasanya buahnya berbentuh sedikit agak lonjong. Untuk pemetikannya sendiri buah yang yang akan dipetik dipegang dengan tangan lalu gunting pangkas diletakkan diantara buah dan cabang dan digunting. Buah yang seperti ini merupakan buah yang paling mudah dipanen. Untuk pemanenan waktu tidak ditentukan yang paling penting yaitu air yang ada pada pilar sudah berkurang. Waktu pemanenan tidak mempengaruhi kualitas buah yang paling penting buah hasil panen segera diletakkan pada daerah yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung.

6. Pasca Panen
Setelah pemanenan dilakukan yaitu dilakukan pasca panen. Dimana petani melakukan beberapa proses pasca panen seperti berikut ;


  1. Seleksi/Sortasi
Dari hasil panen tidak semua buah yang dipanen berkualitas baik untuk memenuhi kebutuhan pasar. Seleksi (sortasi) dan grading (pengkelasan) untuk meningkatkan performen. Kegiatan sortasi dan grading dilakukan oleh beberapa pekerja tetap, dimana buah naga yang berukuran besar, sedang, dan kecil dipisahkan dalam keranjang buah yang telah disiapkan dengan ukuran 400-650 gram, dengan warna kulit merah mengkilap, dan buah naga telah berumur 50 hari terhitung sejak bunga mekar.
2.      Pengumpulan/Penampungan
Lokasi penampungan sementara dekat dengan tempat pemanenan tepatnya terdapat sebuah pondok kecil didekat lahan. Wadah penampungan berupa argo dan keranjang yang digunakan untuk mengangkut hasil panen dari lahan ke gudang penyimpanan. Buah naga harus dihindarkan dari kontak langsung dengan sinar matahari. Untuk menjaga kesegaran buah naga yang nantinya akan diolah maupun di pasarkan.
3.      Perlakuan Sebelum Pengemasan
  1. Pengemasan
Pengemasan yang dilakukan oleh petani buah naga untuk menghindari  kerusakan fisik selama pengangkutan berupa keranjang. Bahan pengemas luar untuk tingkat pengecer (kemasan dalam) terbuat dari kertas dan pastik.


b.      Penyimpanan
Tujuan penyimpanan adalah untuk mempertahankan mutu dan kesegaran buah-naga serta untuk memperpanjang masa simpannya. Disini petani tidak melakukan penyimpanan karena setelah di panen buah naga langsung di pasarkan.
c.       Transportasi
Pada saat pengiriman barang dari petani kepedagang maupun suwalayan yang memesan petani menggunakan mobil boks agar buah naga yang di angkut terhindar dari matahari, dan buah naga di masukkan kedalam kemasan kardus untuk menghindarkan terjadinya gesekan yang akan membuat buah naga menjaadi rusak dan dapat menurunkan kualitas buah naga, pengangkutan dilakukan selama 1 hari.
4.2.      Analisis Usahatani Buah Naga
            Berikut tabel Perkiraan Analisis Usahatani Buah Naga dengan luas lahan 1 Ha di Desa Alubu, Kecamatan Peurelak Barat, Kabupaten Aceh Timur.
Tabel 3.Perkiraan Analisa Usaha Tani Buah Naga dengan luas lahan 1 Ha di Desa Alubu, Kecamatan Peurelak Barat, Kabupaten Aceh Timur.
No
Uraian
Volume
Satuan
Harga (@)
(Rp)
Jumlah (Rp)
1.
Biaya Produksi





a.    Sewa Lahan selama 5 tahun
1000
m2
Rp 3.000,000,-
Rp 15.000.000,-

b.   Peralatan





-      Cangkul
4
Buah
Rp 30.000,-
Rp 120.000,-

-      Gembor
4
Buah
Rp 15.000,-
Rp 60.000,-

-      Parang
4
Buah
Rp 25. 000,-
Rp 100.000,-

-      Bambu
2.000
Batang
Rp 3000,-
Rp 6.000.000,-

-      Besi + Ban
2.500
Buah
Rp 800,-
Rp 2.000.000,-
Jumlah Biaya Produksi



Rp 8.280.000,-
2.
Sarana Produksi





a.Benih buah naga (stek)
2.000
Batang
Rp 30.000,-
Rp 60.000.000,-

b.   Pupuk





-      Pupuk Kandang
64.000
Kg
Rp 150,-
Rp 9.600.000,-
Jumlah sarana produksi



Rp 69.600.000,-
3.
Tenaga Kerja





-      Pengolahan tanah (5 hari)
5
HKP
Rp 40.000,-
Rp 1.000.000,-

-      Tanam (2 hari)
3
HKP
Rp 40.000,-
Rp 240.000,-

-      Penyiraman (1 minggu sekali) 20 x penyiraman.
1
HKP
Rp 30.000,-
Rp 600.000,-

-      Pemupukan (3 bulan sekali) 20 x pemupukan.
3
HKP
Rp 40.000,-
Rp 2.400.000,-

-      Penyiangan (6 x)
3
HKP
Rp 35.000,-
Rp 630.000,-

-      Panen dan Pasca Panen
3
HKP
Rp 40.000,-
Rp 120.000,-

-      Transportasi
1
HKP
Rp 2.000.000,-
Rp 2.000.000,-
Jumlah biaya tenaga kerja



Rp 6.990.000,-

Total biaya (Modal)



Rp 99.870.000,-



4.3. Analisis Biaya dan Pendapatan Usahatani.
No.
Keterangan
Harga (Rp)
1.
Biaya Usahatani


a.       Sewa lahan 5 tahun
Rp.                 15.000.000,-

b.      Nilai penyusutan
Rp.                          7.500,-

c.       Pupuk 
Rp.                 69.600.000,-

d.      Tenaga kerja
Rp.                   6.990.000,-
Total biaya produksi (TC)
Rp.                91.597.500,-
2.
Pendapatan usahatani


a.      Panen tahun ke 1:
10 x 2000 x 0,5 kg

Rp.               350.000.000,-
Total produksi/pendapatan 10.000 kg x Rp.35.000,- (TR)
Rp.           350.000.000,-
3.
Keuntungan Usahatani (TR – TC)
Rp.           258.402.500,-

A. Break Event Point (Titik Balik Modal)
BEP adalah suatu kondisi yang menggambarkan bahwa hasil usaha yang diperoleh sama dengan modal yang dikeluarkan..
1.    BEP Volume produksi.
BEP volume produksi menggambarkan produksi minimal yang harus dihasilkan agar usahatani tidak mengalami kerugian.
     Titik balik modal tercapai jika produksi buah naga mencapai 2.617 kg.Hasil ini menunjukkan bahwa pada saat di peroleh produksi sebesar 2.617 Kg usahatani buah naga mendapatkan keuntungan.
2. BEP Harga produksi.
Titik balik modal tercapai jika harga jual buah naga adalah Rp.9159,75/ kg. Hasil ini menunjukkan bahwa pada saat harga buah naga ditingkat petani Rp 5159,75/ kg usaha buah naga mendapatkan keuntungan.
B. Benefit Cost Ratio (Rasio Biaya dan Pendapatan)
B/C digunakan untuk mengukur analisis kelayakan usahatani, yakni perbandingan antara permintaan kotor dengan total biaya yang di keluarkan.
Nilai B/C rasio sebesar 3,82  menunjukkan bahwa dengan biaya atau modal usaha sebesar Rp. 99.870.000 akan diperoleh penerimaan sebesar 1 % dari modal yang di keluarkan. Artinya, setiap penambahan biaya sebesar Rp. 1,00 memperoleh penerimaan Rp. 3,82.
C. Returen of Investment (ROI)
ROI adalah analisis untuk mengetahui keuntungan usahatani berkaitan dengan modal yang telah di gunakan. Besar kecilnya nilai ROI ditentukan oleh baiknya kondisi perusahaan. Untuk menghitung ROI adalah :





Tidak ada komentar: